Kesulitan Ekonomi Indonesia di 2024 adalah Produk Keegoisan Boomer
Banyak yang mengatakan pemuda di Gen Z di Indonesia memiliki kesehatan mental yang lemah.
Anggap saja hal itu benar, perubahan teknologi sangat pesat di era pertumbuhan Millenials dan Gen Z. Hal itu memudahkan muda-mudi ini untuk mengakses segala informasi dan mulai membandingkan pencapaiannya dengan pemuda di umur yang sama. Padahal jika dianalisis lebih jauh, tidak semua pemuda ini memiliki privilege yang sama dengan teman sebayanya. Privilege bukan menentu tentang kekayaan. bisa saja koneksi, orangtua yang suportif, fasilitas beasiswa dari pemerintah untuk rakyat miskin ketika sekolah, dan lain sebagainya.
Kala itu boomer dan baby boomer adalah orangtua yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter pertumbuhan anak. Mari kita lihat di tahun 1999 dan selanjutnya, banyaknya generasi ini beranggapan dalam agama bahwa "banyak anak, banyak rezeki".
Baiklah anggap saja itu benar. Mari kita pikirkan kembali, kondisi ekonomi indonesia saat itu memang tidak terlalu buruk. Mencari pekerjaan tidak sesulit pada era sekarang.
Bayangkan berapa juta rakyat Indonesia berpikir demikian dan menghiraukan imbauan program KB 2 anak.
Menikah tanpa mental atau finansial yang siap. Bahkan yang lebih parah saat ini, perempuan dan laki-laki tak paham betul dengan apa yang menjadi kewajibannya sebagai laki-laki dalam keluarga, dan apa yang menjadi kewajiban perempuan dalam keluarga. Dari keputusan yang impulsif ini, mereka tidak berpikir dampak masa depan anak tersebut bagaimana.
Dan dari serangkaian permasalahan yang dianggap sepele oleh boomer ini, bukankah mereka sendiri yang belum siap menjadi orangtua dalam perkembangan zaman digital yang sangat kompetitif ini.
Luapan penduduk dengan usia produktif ini yang mereka anggap sebagai banyak anak akan sejalan dengan banyak rezeki. Padahal mereka hanya beranak, dan menuntut anak yang paling tua untuk membantu membiayai adik-adiknya.
Komentar
Posting Komentar