Hidup Menjadi Perempuan Jawa di Indonesia Menyesakkan
Banyak hal yang baru kuketahui ketika aku remaja, aku mengira bahwa semua perempuan mengalami kesulitan yang sama denganku. Ternyata tidak semua perempuan mengalami itu.
Semenjak kecil, kami dibandingkan dengan anak laki-laki, perempuan tidak memiliki privilege pendidikan yang sama dengan laki-laki.
Laki-laki mendapat fasilitas pendidikan yang lebih baik seperti kursus tambahan, les hobi, dan lain sebagainya.
Orangtua sangat bersemangat ketika anak laki-laki mereka mendapat ranking di kelas, namun tidak jika anak perempuan mendapatkan achievement yang serupa.
Kami dituntut untuk selalu bangun pagi, membantu cuci piring dan memasak pada akhir pekan.
Hal ini tidak berlaku ke anak laki-laki yang bisa bangun siang seenak mereka. Ketika mereka bangun, sepiring nasi dan lauk sudah disediakan oleh orangtua kami seolah-olah laki-laki ini adalah raja.
Memegang pekerjaan rumahpun mereka merasa jijik, tetapi ironisnya hal ini diwajarkan saja oleh orangtua.
Beranjak dewasa, karena laki-laki ini sudah terbiasa mengandalkan orangtuanya. Dia menganggap segala kenakalannya akan selalu dimaafkan kedua orangtuanya. Kenakalan remaja seperti tawuran, mencuri uang SPP, langganan dipanggil oleh BK Sekolah dianggap wajar dan orangtua kami selalu memaafkan dia.
Kami sebagai perempuan jawa yang berusaha tidak membebani orangtua, menjadi anak baik, mencoba meraih peringkat di sekolah tanpa privilege kursus apapun. Pencapaian kami sungguh tidak dipandang sama sekali oleh orangtua kami.
Perempuan jawa yang tidak pernah dipandang pendapatnya oleh orangtua ini, tiba-tiba dituntut untuk menjalani karier yang sama dengan orangtuanya yaitu bisnis. Hal ini sebenarnya bukan masalah yang besar untuk perempuan ini, karena sejak awal hidupnya sudah diatur seolah-olah adalah sandera orangtua. Semua kritik yang membangun dari anak ini hanyalah sampah yang tidak perlu dilakukan.
Anak perempuan jawa yang dituntut untuk menyerupai ibunya secara karakter dalam bekerja, tapi percayalah bahwa anak-anak ini kehilangan jati dirinya sendiri karna suaranya tidak pernah dihiraukan semasa mereka hidup.
Komentar
Posting Komentar